Ketika duduk di bangku SD aku kerap merasa kesal, kenapa aku tak bisa melihat udara. Namun seiring beranjak dewasa aku mensyukurinya. Terlepas apapun warna setiap partikelnya, atau bagaimana bentuk rajutan molekulnya, aku senang aku tak bisa melihatnya. Ukurannya yang terlalu kecil membuatnya mudah dihirup dan masuk ke alveolusku, berikatan dengan darah sehingga membuat warna merahnya menjadi lebih cerah, kemudian dilepaskan ke penjuru organ yang membutuhkan tanpa aku harus menciptakan algoritmanya yang rumit. Alhamdulillah. Bisa bayangkan jika partikel udara menjadi lebih besar sedikit saja sampai kita bisa menimbang atau mengukurnya? Prediksiku manusia akan berevolusi menjadi lebih besar pula, dan kehilangan bulu hidungnya..hehe... tapi yang pasti pengalaman bernafas itu pun akan jauh berbeda. Maksudku, kapan terakhir kali kita mensyukuri hal hal kecil? Smartphone yang kita genggam, layar 4K 8K yang dipuji penemuannya, teknologi nano yang banyak mengisi topik perbincangan ...
Kalau teman-teman pergi ke toko buku untuk membeli Al Qur’an, kalian akan menemukan begitu banyak macam Al Qur’an dari sisi penerbit, merk, model, warna, maupun kelengkapan tafsirnya. Tapi terlepas dari semua itu, perlu diketahui bahwa perbedaan tersebut hanya dari segi fitur dan bisnisnya saja. Jadi tidak ada perbedaan dari Substansi Al Qur’an itu sendiri seperti jumlah ayat dan suratnya, Makna, dan Cara Baca, kegunaan dari Al Quran itu sendiri, dan juga sikap atau adab kita dalam bermuamalah dengan Al Quran. Karena apapun merknya, Al Qur'an berisi Kalamullah atau wahyu dari Allah yang berguna untuk membimbing para pembacanya untuk memahami dan mengamalkan agama islam yang diridhai oleh Allah. Perlu diketahui bahwa Al Quran yang banyak digunakan dan diperjualbelikan di Indonesia mau merk syamil, aqwam, cordoba, tiga serangkai, dll adalah Al Quran yang dicetak dengan penulisan yang ditetapkan oleh Kementrian Agama Indonesia. Akan tetapi buku-buku tajwid (buku pelajaran untuk memaha...
Konon kejayaan kebudayaan era Yunani Kuno terjadi pada tahun 546 – 323 SM, dimana ilmu filsafat, kesustraan, seni patung, arsitektur, dan musik menduduki zaman keemasannya. Menurut mitos Yunani Kuno, musik merupakan ciptaan seseorang yang diyakini sebagai manusia setengah dewa yakni Apollo, salah seorang anak Zeus yang dikenal juga dalam teologi Yunani sebagai dewa pemusik. Dan faktanya sejak zaman tersebut musik sangat identik dan tidak dapat dipisahkan dari upacara – upacara keagamaan, terutama bagi para penganut aliran Apollo dan Dionysus (meski keduanya memiliki jenis musik yang berbeda). Bahkan jika kita search “Apollo” pada google, maka akan kita temukan figur atau patung berhala yang memegang sebuah Lyra (sejenis harpa kecil), sebuah alat musik petik yang digunakan untuk mengiringi puisi dalam peribadatan dan acara besar lainnya. Beranjak ke Romawi kuno ketika manusia masih menyembah kaisar sebagai dewa. Kebudayaan Romawi sangat dipengaruhi oleh Yunani yang terlihat ...
Selama ini kita gapernah belajar caranya bagi waktu antara santai-santai, bermain, sekolah, ngerjain PR, atau jalan-jalan. Tapi kita bisa melakukannya dalam sehari. Jadi heran aja kalo kita gabisa luangin waktu untuk baca quran barang sehalaman padahal untuk tidur siang kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Makin heran lagi ketika kita ngaku ga sempet sholat witir barang satu rakaat, padahal untuk bengong aja kita bisa menghabiskan waktu cukup untuk menyesap secangkir teh atau memandangi satu episode drama keroya. Mungkin bukan cara bagi waktu kita yang harus kita koreksi. Mungkin kedudukan Ilmu Agama dan impian kita tentang surga saja yang letaknya terlalu terpencil di hati.
Wanita yang jatuh cinta mendapatkan surat dari kekasihnya tapi dengan bahasa yang tak dikenalinya. Apa dia hanya diam atau mencari orang yang dapat membacakan dan mengartikannya? Bagaimana seseorang yang mengaku cinta Allah, Allah turunkan 114 surat baginya, semua dimulai dengan "bismillaahirrahmaanirrahim" kecuali satu surat saja, sebagai rahmatNya (cinta dan kasih sayangNya), dan dengan bahasa Arab. Apa kita diam saja atau mencari majlis yang dapat menerangkan isi surat tersebut kepada kita, wahai kita yang mengaku cinta? Jikalau tidak, Bagaimanakah cinta yang kita maksud? Study..for Masruq, a Tabi'in, Ulama in tafseer, beloved student of 'aisyah radhiyallaahu'anhaa had taken a journey from madinah to iraq only for a word of His Kalaam. faidah kajian 'keutamaan menuntut ilmu', Ust. Nuzul Dzikri
[Keutamaan Ilmu] Okay, let's talk about something deep. Apa yang ga bisa habis? Atau gini.. Kaya faidah dari ustadz said abu ukasyah pas mensyarah kitabut tauhid, waktu ustadznya nerangin metode dalam menafsirkan suatu istilah/lafadz, yakni; 1. Menjelaskan makna dari suatu lafadz, 2. Menjelaskan lawan makna dari lafadz tersebut. Jadi pertanyaannya berubah.. Apa yg bisa habis? Kaya tehnya mama tadi yang secara terminologi bisalah dikatakan habis.. Maka begitu pula dengan harta, tahta, tenaga (plis jangan bawa2 hukum kekekalan energi), dsb. Sebagaimana pakaian bisa lusuh, rusak, sobek, ketinggalan jaman, dst, maka kudapan niscaya jadi kotoran, minimal basi ketika ga dimakan, atau teroksidasi & terurai bakteri ketika dibuang. Harta datang & pergi, kekuasaan silih berganti. Cantikmu hari ini.. Akhirnya keriput di masa tua. Kayamu saat ini, mati pun gabawa apa apa. Jabatanmu masa kini, endingnya pensiun juga. Mudah memahami bahwa sesuatu itu tidak...
Pena menari diatas kertas, tinta mulai mengering karena kapilaritas, mata berbinar mendengarkan untaian ilmu dengan pandangan jumud nan pulas, dan hati mabni dengan sukun di antara rahmat tanpa batas.. apa yang lebih baik dari majlis ilmu? Bagaimana mungkin kau sanggup terkantuk sementara langit senantiasa berderit, sesak dengan malaikat yang tak berbilang, sibuk menyebut nyebut namamu..? Bagaimana mungkin kau sanggup beranjak dari inisial itu sementara semut semut bahkan ikan ikan dilaut tak segan segan memohonkan ampun bagimu? Betahlah, bangunlah...
Comments
Post a Comment